Potensi

1. KUB SEDESA KAYA

Sedesa Kaya Berawal Dari Kebakaran Hutan dan Lahan di Desa Dayun Pada tahun 2013-2017, kampung yang luasnya 132.000 Ha dengan 8.000 jiwa penduduk ini kerap terjadi kebakaran hutan dan lahan. Karena tak ingin menghirup kabut asap, masyarakat pun ramai-ramai membuat embung atau kolam penampungan air. Embung kemudian digunakan helikopter water bombing untuk mengambil air dan pemadaman kebakaran lahan.

Semangka Sebagai Solusi Cegah Karhutla yang datang hampir setiap tahun di Desa Dayun, beberapa masyarakat berinisiatif mencari solusi sekaligus bisa meningkatkan pendapatan dengan menggunakan lahan kebun miliknya. Maka dipilih semangka sebagai tumbuhan solutif untuk mengatasi karhutla. Karena tumbuhan semangka ini membutuhkan banyak air, maka akan selalu disiram sehingga lahan akan tetap basah dan tidak kering.

KUB Sedesa Kaya dibentuk untuk membantu para petani yang menanam semangka di Desa Dayun agar dapat berinovasi dalam menjual produk olahan semangka, maka Pemerintah Kampung Dayun membuat Kelompok Usaha Bersama (KUB SEDESA KAYA). Dengan adanya KUB SEDESA KAYA, para petani diajarkan mengolah semangka hasil kebunnya menjadi produk inovasi lain yang dapat dijual di pasaran. Sedesa Kaya menyabet penghargaan dalam kegiatan Forum Kapasitas Nasional (Forkapnas) III/2023 wilayah Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) di Radisson Hotel, Batam pada 12-13 Juli 2023 yaitu “Booth Terbaik”, “UMKM Penjualan Terbanyak di Tokopedia”, “Nominator Kategori UMKM Inovasi Terbaik”, “UMKM Nominator KAtegori Jaringan Penjualan Terluas”.

Inovasi Produk Turunan Semangka yang dihasilkan dari komoditas semangka para petani di Desa Dayun yaitu Brownies Semangka, Sirup Semangka, Keripik Semangka, Jelly Semangka, Selai Semangka, Minuman Semangka, Manisan Kulit Semangka, dan Batik Motif Daun Semangka yang menjadi ciri khas batik dari Desa Dayun.

2. Danau Zamrud

Danau Zamrud ini dikenal memiliki pemandangan yang sangat indah. Bahkan objek wisata konservasi alam Kabupaten Siak ini kerap disebut sebagai salah satu keajaiban dunia karena Danau Zamrud merupakan sebuah danau rawa yang mempunyai keunikan tersendiri dengan memiliki ekosistem yang sangat unik. Dengan memiliki dua danau lainnya yang bernama Danau Atas dan Danau Bawah. Dengan pemandangan ekosistem masih asri seperti Pulau Amazon di Film Anakonda. Danau Zamrud yang terletak di hutan rawa gambut basah di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Provinsi Riau merupakan terdiri dari 2 (dua) danau yang berdekatan. Kedua danau tersebut bersisian satu sama lain yaitu Danau Atas dengan luas 2.416 Ha, dan Danau Bawah dengan luas 360 Ha. Fauna Zamrud yang sangat eksotis, diantaranya ikan arwana, ikan toman, burung bangau putih, burung enggang dan masih banyak lagi.

3. Embung Terpadu

Embung Terpadu Dayun adalah kisah sukses transformasi dari sebuah sarana antisipasi bencana menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat yang menginspirasi. Terletak di Kampung Dayun, Kabupaten Siak, Riau, embung ini awalnya dibangun pada tahun 2018–2019 sebagai bagian dari upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dengan luas lebih dari dua hektare dan kedalaman mencapai tiga meter, embung ini berfungsi sebagai penampung air saat musim kemarau—terutama untuk membantu pemadaman kebakaran di wilayah gambut yang rawan terbakar.

Namun seiring waktu, dan dengan semakin terkendalinya karhutla, embung ini mulai kehilangan fungsi utamanya. Pemerintah kampung dan masyarakat setempat tak tinggal diam. Dengan semangat kolaboratif, mereka menyulap embung tersebut menjadi sebuah kawasan wisata terpadu. Proses ini melibatkan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), BUMKam, serta dukungan dari berbagai pihak. Dalam beberapa tahun, kawasan yang dulunya hanya berisi genangan air darurat berubah menjadi tempat rekreasi keluarga yang penuh warna dan aktivitas.

Embung Terpadu Dayun kini dilengkapi berbagai fasilitas seperti wahana permainan air, area outbound, jalur jogging, taman edukasi, gazebo, dan homestay. Pengunjung dapat menikmati permainan flying fox, monkey bridge, hingga menyusuri kanal menggunakan sepeda air. Tidak hanya menawarkan hiburan, kawasan ini juga menjadi sarana edukasi tentang ekosistem gambut dan pentingnya pengelolaan lingkungan.

Uniknya, embung ini juga menjadi pusat pengembangan ekonomi lokal. Budidaya semangka, yang awalnya dilakukan untuk deteksi dini kebakaran, kini berkembang menjadi produk olahan seperti sirup, camilan, hingga batik bermotif semangka yang menjadi ciri khas kampung. Semua pengelolaan dilakukan berbasis masyarakat, dengan sistem bagi hasil yang adil dan transparan.

Transformasi Embung Terpadu Dayun telah menarik perhatian nasional. Pada 2022, kampung ini masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan bahkan mendapat kunjungan dari Menteri Pariwisata. Embung ini tak hanya menjadi simbol keberhasilan masyarakat Dayun mengatasi tantangan lingkungan, tetapi juga menjadi bukti bahwa desa dapat menjadi pelopor pariwisata berkelanjutan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warganya.

Galeri Potensi